Malam di Balik Jeruji

Entah malam keberapa di ujung jalan ini langkah terhenti

Perlahan hujan menjejakkan kakinya kembali

Pandanglah dedauanan basah berurai air, perlahan menetes membasahi

Pada jiwa yang dibelai angin

Hiruplah keserderhanan tak berbentuk mengaliri

Pada jiwa yang dipeluk dingin

Peluklah malam sepi

Entah malam keberapa di ujung jalan ini langkah terhenti

Kembali hujan menjejakkan kaki

Senja Dikala itu

Kita bertemu di senja itu

Senja keberapa akupun tak tahu

Dikala itu pandangan kita beradu, matamu, mataku

Begitu kuat gemuruh menghentak dadaku

Hembusan angin membelai rambut hitammu

Gerai rambutmu mengelus lembut wajahku

Kitapun mengubah haluan pandang menuju laut jauh

Menatap fajar dilahap laut, senjapun berlalu

Lalu suaramu membunuh diam

“Apakah kau akan sama dengan senja” katamu.

 

 

 

 

 

 

Secangkir Kopi Pagi

Ini  secangkir kopi pagi untukku, katamu

Entah berapa sendok gula yang kau tuang pada gelas kopiku, biar hilang pahit.

Jemarimu meliuk-liuk mengaduk gula melebur cair

Manisnya kopi yang kau racik kini aku seduh

Kopi tertuang dalam mulut menuruni kerongkonganku

Aku tatap hitamnya warna kopi pada gelas yang kau isi

Hitam

Diam

Aku terdiam mengenang hari kelam dahulu suram

Kini mataku terang dalam pandang

Apakah karena kopi yang kau tuangkan pada cangkirku?

“Hmm…entahlah”, jawabmu dengan senyummu menampar diamku.

 

Jawablah Sapaan Problema

 

Problema datang menghampiri, menyalami tangan menyentuh jemari. Terkadang datang menghujani dan membasahi. Hadir dalam rupa yang tak selalu sama. Begitulah perjanannya mengjelajahi setiap jiwa. Tak satupun jiwa yang luput dari sentuhannya. Terkadang menenggelamkan jiwa yang tak mampu menerima kehadirannya, namun ada jiwa-jiwa yang mampu keluar dari lembah problema dilaluinya.

Problema hadir sebagai dinamika hidup. Problema juga membuat manusia berfikir dan melakukan sesuatu untuk melaluinya. Bagi manusia yang bijaksana menanggapinya, tentu akan mendapatkan sesuatu yang berharga dan menjadikan sebuah proses pembelajaran bagi manusia tersebut. Ia menjadikannya sebagai ajang berpikir dan berbuat untuk keluar dari ruangan yang bernama problema.

Proses yang dilalui setiap manusia dalam menghadapi gelombang promlema tentu tidak sama. Ada manusia yang tidak bisa menyelesaikan teka-teki hidup(problema) dalam waktu yang singkat. Ada juga manusia yang melaluinya dengan proses yang panjang. Ada orang yang lari menjauh namun tetap dikejar problema dan menghantuinya. Ada orang yang mempelajari, memahami dan melakukan usaha untuk menyelesaikannya dan menemui hasil yang memperkaya jiwanya dan membuat hidupnya mempesona. Problema bukanlah hal yang menakutkan, sebab setiap insan akan mendapatkan ujian dari tuhannya,layaknya seorang pelajar yang menghadai ujian akhir. Kalau manusia mau belajar dan menganggap problema sebagai bagian dari proses perjalana hidup menuju bahagia, maka ia akan menggunakan akal dan pikirannya mencari jalan keluar dan berbuat sesuatu yang akan menyelesaikan problema yang ada, maka ia akan menemukan muara hikma yang menawarkan air pelepas dahaga.

Sebagai manusia mau tidak mau kita akan menjumpai yang namanya problema atau masalah. Tentu yang harus kita lakukan ialah memikirkan dan berbuat sesuatu untuk menyelesaikannya. Jangan pernah lari atau menyerah padanya, sebab manusia sudah dibekali akal dan pikiran serta hati sebagai alat bantu dalam menyelesaikan yang namanya problema.

Mengeja Tanda

Mengukur bayang pada siang tubuh kerontang

Menatap pelangi goreskan warna pada petang

Peraduan kembalinya sang siang

Memeluk malam dalam lelap, pekat

Mengeja tanda pada cakrawala, berbintang

Menuntun jiwa menuju esok, fajar menyingsing

Di sana bermula pagi, jiwa terbaring berbalut kabut

???

Masih tentang cerita malam yang meninggalkan petang

Secabik kisah menutup lembaran pada kelam

Jingga warna kini hitam pekat melekat

Menuju purnama entah menghampiri malam keberapa

Petapaan sunyi masih berkawan malam

 

Menetek Kasih

Mencigap jendela rumah dahulu,
Dalam balutan badung, terayun kasih dalam timang

Dalam rangkul hangat usir dingin

Buayan cinta muarakan pada  lelap

Adalah pelangi penghias senja pada bola matamu

Menatap senja, kini menunggu malam